Ada beberapa pilihan keterampilan:
“R” untuk Realistis – Pribadi yang realistis menyukai kegiatan
kerja yang termasuk di dalam praktik, dan upaya memecahkan
masalah secara langsung. Mereka senang mengurusi tanaman,
binatang dan bahan-bahan alami misalnya kayu, perkakas dan
mesin. Mereka menyukai pekerjaan di luar ruangan. Sering
kali mereka tidak menyukai pekerjaan yang melulu mengurusi
masalah dokumentasi atau bekerja dengan orang lain.
“I” untuk Investigatif – Pribadi yang investigatif menyukai
pekerjaan yang berhubungan dengan gagasan/ide dan pemikiran
ketimbang pekerjaan fisik. Mereka senang mencari tahu fakta dan
memecahkan masalah secara mental ketimbang membujuk atau
mengarahkan orang lain.
“A” untuk Artistik – Pribadi yang artistik menyukai kegiatan yang
berhubungan dengan sisi artistik sesuatu hal misalnya bentuk,
rancangan dan pola. Mereka menyukai ekspresi jiwa dalam
pekerjaan mereka. Mereka lebih menyukai melakukan pekerjaan
tanpa harus mematuhi aturan tertentu.
“S” untuk Sosial – Pribadi yang bersifat sosial menyukai pekerjaan
yang membantu orang lain serta mendukung pengembangan
diri dan pembelajaran. Mereka lebih menyukai berkomunikasi
ketimbang bekerja dengan objek, mesin atau data. Mereka
senang mengajak, memberi nasihat, membantu atau melayani
orang lain.
“E” untuk Enterprising – Pribadi yang bersifat seperti pengusaha
ini menyukai pekerjaan yang berhubungan dengan memulai dan
melakukan proyek terutama usaha. Mereka senang membujuk
dan memimpin orang serta membuat keputusan. Mereka senang
mengambil risiko demi keuntungan. Kepribadian ini menyukai
aksi ketimbang berpikir.
“C” untuk Conventional – Pribadi yang bersifat konvensional ini
menyukai kegiatan yang mengikuti prosedur dan bersifat rutin.
Mereka menyukai bekerja dengan data dan rincian ketimbang
mencari gagasan. Mereka menyukai bekerja dengan standar
yang rinci ketimbang memutuskan bekerja dengan cara sendiri.
Kepribadian ini senang bekerja dimana garis wewenang terlihat
jelas.
Tampilkan postingan dengan label Oleh: Annisa Ulfiandari (101014238). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oleh: Annisa Ulfiandari (101014238). Tampilkan semua postingan
Rabu, 23 Mei 2012
Kompetensi Guru BK/Konselor
Berikut ini menjelaskan standard kompetensi minimum yang disyaratkan dari
Guru BK/Konselor di Indonesia. Meskipun manual yang ada saat ini tidak berusaha untuk
mencakup semua kompetensi ini, manual ini merupakan kerangka kerja yang penting bagi
muatan dari pekerjaan yang diusulkan:
Meliputi kategori kompetensi yang seharusnya dimiliki Guru BK/ Konselor :
A. Kompetensi Pedagogik
1. Menguasai teori dan praksis pendidikan;
2. Mengaplikasikan perkembangan fisiologis dan psikologis serta
perilaku peserta didik;
3. Menguasai esensi pelayanan bimbingan dan konseling dalam
jalur, jenis, dan jenjang satuan pendidikan;
B. Kompetensi Pribadi
4. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
5. Menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai
kemanusiaan,individualitas dan kebebasan memilih;
6. Menunjukkan integritas dan stabilitas kepribadian yang kuat;
7. Menampilkan kinerja berkualitas tinggi;
C. Kompetensi Sosial
8. Mengimplementasikan kolaborasi intern di tempat bekerja;
9. Berperan dalam organisasi dan kegiatan profesi bimbingan dan
konseling;
10. Mengimplementasikan kolaborasi antarprofesi;
D. Kompetensi Profesional
11. Menguasai konsep dan praktis penilaian (assessment) untuk
memahami kondisi,kebutuhan, dan masalah peserta didik;
12. Menguasai kerangka teoretik dan praksis bimbingan dan
konseling;
13. Merancang program Bimbingan dan Konseling;
14. Mengimplementasikan program Bimbingan dan Konseling yang
komprehensif;
15. Menilai proses dan hasil kegiatan Bimbingan dan Konseling;
16. Memiliki kesadaran dan komitmen terhadap etika profesional;
17. Menguasai konsep dan praksis penelitian dalam bimbingan dan
konseling.
Guru BK/Konselor juga harus terus-menerus berupaya mengembangkan
kemampuannya. Terutama karena pasar kerja terus-menerus berubah, Guru BK/
Konselor juga harus berupaya memperbarui keterampilan dan pengetahuan
mereka sesuai dengan permintaan pasar kerja dan menunjukkan informasi yang
baru bagi peserta didik.
Guru BK/Konselor di Indonesia. Meskipun manual yang ada saat ini tidak berusaha untuk
mencakup semua kompetensi ini, manual ini merupakan kerangka kerja yang penting bagi
muatan dari pekerjaan yang diusulkan:
Meliputi kategori kompetensi yang seharusnya dimiliki Guru BK/ Konselor :
A. Kompetensi Pedagogik
1. Menguasai teori dan praksis pendidikan;
2. Mengaplikasikan perkembangan fisiologis dan psikologis serta
perilaku peserta didik;
3. Menguasai esensi pelayanan bimbingan dan konseling dalam
jalur, jenis, dan jenjang satuan pendidikan;
B. Kompetensi Pribadi
4. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
5. Menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai
kemanusiaan,individualitas dan kebebasan memilih;
6. Menunjukkan integritas dan stabilitas kepribadian yang kuat;
7. Menampilkan kinerja berkualitas tinggi;
C. Kompetensi Sosial
8. Mengimplementasikan kolaborasi intern di tempat bekerja;
9. Berperan dalam organisasi dan kegiatan profesi bimbingan dan
konseling;
10. Mengimplementasikan kolaborasi antarprofesi;
D. Kompetensi Profesional
11. Menguasai konsep dan praktis penilaian (assessment) untuk
memahami kondisi,kebutuhan, dan masalah peserta didik;
12. Menguasai kerangka teoretik dan praksis bimbingan dan
konseling;
13. Merancang program Bimbingan dan Konseling;
14. Mengimplementasikan program Bimbingan dan Konseling yang
komprehensif;
15. Menilai proses dan hasil kegiatan Bimbingan dan Konseling;
16. Memiliki kesadaran dan komitmen terhadap etika profesional;
17. Menguasai konsep dan praksis penelitian dalam bimbingan dan
konseling.
Guru BK/Konselor juga harus terus-menerus berupaya mengembangkan
kemampuannya. Terutama karena pasar kerja terus-menerus berubah, Guru BK/
Konselor juga harus berupaya memperbarui keterampilan dan pengetahuan
mereka sesuai dengan permintaan pasar kerja dan menunjukkan informasi yang
baru bagi peserta didik.
Sabtu, 12 Mei 2012
ANALISIS DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN MODEL KONSEPTUALISASI MASALAH
Contoh
kasus:
Cintya
adalah seorang mahasiswi jurusan Hukum di UB yang sedang menjalani perkuliahan semester
4, Cintya menceritakan bahwa dia seringkali merasa tertekan dan bosan dengan suasana
dan kondisi dirumahnya. Menurutnya, adiknya yang menyebalkan membuat dia selalu
bertengkar hanya karena permasalahan kecil, misalnya adiknya yang tidak mau
meminjamkan barangnya kepada cintya, sikap adiknya yang semaunya sendiri, bahkan
sampai bersikap agresif terhadap Cintya. Hal demikianlah yang akhirnya membuat
Cintya merasa geram dan marah. Dari situlah Cintya sering melakukan perilaku yang
kurang baik, seperti memulai perkelahian karena merasa jengkel dengan sikap
adiknya tersebut, sering mengambil barang adiknya tanpa seijinnya, bahkan Cintya
tidak mau mengalah sedikitpun kepada adiknya karena terlalu jengkel.
Cintya menuturkan bahkan
dia pernah sampai menangis saat bertengkar dengan sang adik. Akan tetapi ibunya
selalu saja membela adiknya dan selalu menyalahkannya, bahkan ketika Cintya
bermaksud meluruskannya dia tidak berani menyampaikan kepada ibunya. Akhirnya
Cintyapun berprasangka bahwa ibunya lebih menyayangi adiknya dari pada dirinya.
Apapun yang diinginkan oleh adiknya selalu saja dituruti dan dipenuhi ibunya.
Sempat Cintya berpikir serta mengatakan “Apakah saya tidak pantas menjadi
seorang kakak yang baik”, karena dia merasa ibunya sendiri tidak adil
terhadapnya, dan terus menerus menyalahkannya. Begitu pula dengan ayahnya, yang
cenderung cuek dan tidak peduli terhadapnya. Keadaan inilah yang membuat Cintya
dirumah merasa kurang mendapatkan perhatian dari kedua orangtuanya, apalagi
ibunya yang lebih memprioritaskan adiknya. Hal tersebut yang kemudian
membuatnya di kampus cenderung menjadi anak yang pendiam dan mudah cemas dalam
menghadapi situasi. Mungkin karena sikap orangtuanya yang kurang
memperhatikannya menyebabkan dia tidak dapat mengatur pola makan dengan baik,
hingga Cintya seringkali menderita magh, mudah kecapekan, dan sering sakit
kepala. Di lain sisi dalam perkuliahan yang dijalaninya, dia termasuk anak yang
taat terhadap peraturan yang ditetapkan, seperti hadir tepat waktu dan
mengerjakan tugas tepat waktu. Ketika ujian dia juga berusaha untuk
mengerjakannya sendiri serta sejauh ini dia dapat memperoleh IP dengan skor
yang memuaskan.
Hasil
Analisis:
1. Model
konseptualisasi masalah dari Swensen
Perilaku Menyimpang
|
Tekanan
|
Kebiasaan Maladaptif
|
· Memulai
perkelahian dengan adiknya
|
· Memiliki
adik yang agresif dan seenaknya sendiri
· Hubungan
dengan orangtua tidak harmonis, ditandai dengan sikap ibu yang lebih
memprioritaskan adiknya, serta ayah yang tidak peduli terhadapnya.
|
· Sering
mengambil barang tanpa seijin adiknya
· Tidak
berani meluruskan permasalahannya dengan sang adik kepada ibunya
· Mudah
cemas dalam menghadapi situasi
· Tidak
dapat mengatur pola makan
|
Dukungan
|
Potensi
|
Kebiasaan Adaptif
|
· Konselor
bersedia membantu memecahkan masalah Citra sebagai seorang klien
|
· Kinerja
yang baik dalam keseharian di kelas
· Skor
IQ yang cukup baik ditandai dengan hasil IP di tiap semester yang cukup
memuaskan
|
· Selalu
berusaha mengerjakan ujian dengan jujur
· Taat
terhadap peraturan perkuliahan, seperti: hadir tepat waktu dan juga
mengerjakan tugas tepat waktu
|
2. Model
konseptualisasi masalah dari Seay
Kemungkinan
Lingkungan
|
Kesalahan
Kognitif
|
Gangguan
Afektif
|
Pola
Perilaku
|
1. Sikap
ayah yang cenderung cuek dan tidak peduli
2. Ibu
yang lebih memprioritaskan adiknya dan selalu menyalahkannya
3. Saudara
(adiknya) yang menyebalkan/ semaunya sendiri
4. Prestasi
belajar cukup baik
5. Kurang
mendapatkan perhatian dari kedua orangtua
|
1. Pikiran
gagal karena merasa tertekan
2. Menyalahkan
diri dengan berpikir bahwa dirinya tidak pantas menjadi seorang kakak yang
baik
|
1. Mudah
mengalami kecemasan dalam menghadapi situasi
2. Merasa
geram dan marah dengan sikap adiknya yang agresif
3. Merasa
tertekan karena selalu disalahkan dan kurang mendapat perhatian orangtua
|
1. Tidak
mau mengalah sedikitpun dengan sang adik
2. Pernah
menangis saat bertengkar dengan adiknya karena terlalu jengkel
3. Tidak
dapat menjaga kesehatan dengan baik
4. Tidak
memiliki keberanian meluruskan permasalahan yang terjadi dengan adiknya
kepada ibunya
|
3.
Model konseptualisasi masalah dari Lazarus
Modalitas
|
Amatan
|
B:
Behavior (perilaku)
|
· Cintya
menjadi anak yang cenderung pendiam di kelas
· Mengambil
barang adiknya
· Tidak
mau mengalah dengan sang adik
· Menyalahkan
diri sendiri
|
A:
Affect (emosi, perasaan)
|
· Mudah
cemas dalam menghadapi situasi
· Merasa
sedih, tertekan dan serba salah
· Merasa
kurang mendapatkan perhatian dari orangtua
· Merasa
geram dan marah dengan sikap adiknya yang agresif dan semaunya sendiri
|
S:
Sensation (perasaan tubuh)
|
· Merasakan
ketegangan saat berhadapan dengan ibunya
|
I:
Imagery (imajeri)
|
· Cintya
berprasangka bahwa ibunya lebih menyayangi adiknya dari pada dirinya, dari
sinilah dia merasa tertekan
|
C:
Cognition (kognisi)
|
· Cintya
berpikir bahwa dia tidak pantas menjadi seorang kakak yang baik
· Merasa
ibunya tidak adil terhadapnya
· Tidak
berani meluruskan kepada ibunya tentang permasalahan yang dihadapi bersama
adiknya karena Cintya berpikir ibunya pasti akan tetap menyalahkannya
|
I:
Interpersonal (hubungan/ relasi interpersonal)
|
· Hubungan
Cintya dengan kedua orangtuanya tidak harmonis, dikarenakan ibu yang lebih
memprioritaskan adik dan ayahnya yang tidak peduli
· Hubungannya
dengan sang adik yang juga tidak harmonis (selalu bertengkar)
|
D:
Drug (tampilan fisik)
|
· Karena
tidak dapat mengatur pola makan dengan baik, membuatnya sering menderita
magh, mudah kecapekan, dan sering sakit kepala.
|
4. Model konseptualisasi perilaku ABC
ABC
|
Amatan
|
A:
Antecedent (peristiwa yang
mendahului)
|
· Sikap
ibu yang selalu menyalahkan Cintya dengan memprioritaskan adiknya
· Sikap
Ayah yang cenderung cuek dan tidak peduli
· Sikap
Adiknya yang agresif dan semaunya sendiri
· Kurang
mendapatkan perhatian orangtua
|
B:
Behavior (perilaku)
|
· Cintya
cenderung pendiam di kelas
· Cintya
menyalahkan dirinya dengan berpikir tidak pantas menjadi seorang kakak yang
baik
· Marah
dan geram dengan sikap adiknya
|
C:
Consequences (konsekuensi)
|
· Karena
kurangnya perhatian dari orangtua, membuat Citra tidak dapat menjaga kesehatannya
sendiri dengan tidak dapat mengatur pola makan yang baik
· Selalu
disalahkan oleh ibunya
|
APLIKASI BK KARIER DALAM PEMILIHAN PEKERJAAN
Bekerja adalah melakukan aktivitas untuk mendapatkan
penghasilan yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Perlu
ditanamkan dalam diri masing-masing orang yang bekerja bahwa apa yang dia
lakukan adalah dalam rangka ibadah, (al-Nawiy 2007). Apabila hal itu dilakukan
maka dia akan berusaha bekerja dengan sungguh-sungguh dan hidupnya menjadi
lebih tentram. Berikut ini disajikan pentingnya bekerja dari beberapa segi
menurut Surya (1990).
1.
Individu
a.
Memenuhi kebutuhan
dalam bidang keuangan dan panggilan hidup
b.
Memenuhi kebutuhan
fisik
c.
Memenuhi kebutuhan psikis:
harga diri, identitas diri, penghargaan dari orang lain, kepuasan pribadi, penentuan gaya hidup, motivasi berprestasi, peningkatan percaya diri.
d .
Pergaulan dan wawasan
lebih luas
e.
Merasa bagian dari
kelompok (sense of belongingness)
f.
Pengisi waktu dalam
sebagian besar kehidupan individu
2.
Keluarga
a.
Adanya sumber
pendapatan untuk memenuhi kebutuhan
b.
Kebanggan keluarga
c.
Terlepanya sebagian
beban keluarga
d.
Penghargaan masyarakat
pada keluarga
e.
Keberhasilan dambaan
keluarga
f.
Peningkatan
kesejahteraan keluarga
3.
Masyarakat
a.
Adanya produksi barang
dan jasa
b.
Tersedianya Man Power
c.
Tersedianya modal,
bahan mentah, dan teknologi
d.
Memperlancar roda
ekonomi
4.
Negara
a.
Sebagai aset nasional
b.
Modal pembangunan
bangsa
c.
Dapat memperlancar
kerja sama antar Negara
d.
Sebagai modal untuk
kemajuan bangsa
Bekerja
pada dasarnya tidak hanya bermanfaat untuk diri sendiri, tetapi juga bermanfaat
bagi keluarga, masyarakat dan bangsa. Para pekerja dapat mendorong adanya
produk barang, tersedianya Man Power, yang
dapat menjadi asset nasional bagi negara, juga memperlancar kerjasama antar
Negara, dan modal peningkatan kemajuan. Selain itu perlu ditanamkan dalam diri
masing-masing orang yang bekerja bahwa apa yang dia lakukan adalah dalam rangka
ibadah. Apabila hal itu dilakuakan maka dia akan berusaha bekerja dengan
sungguh-sungguh dan hidupnya menjadi lebih tentram.
Selain itu menurut
al-Nawiy (2007) ada juga beberapa hal yang perlu diperhatikan seseorang dalam
bekerja antara lain:
1.
Amanah dalam bekerja
2.
Tidak curang
3.
Tidak merampas hak
orang lain
4.
Tidak menipu/berdusta
5.
Tidak bersumpah palsu
6.
Tidak mengambil suap
7.
Tidak mengeksploitasi
kecantikan/ketampanan
8.
Tidak bergosip
9.
Tidak bersepi-sepi
dengan lawan jenis
10.
Tidak memata-matai
Meskipun
bimbingan dan konseling karier telah berkembang deng pesat, bahkan dalam
perkembangannya bisa diterapkan pada berbagai komunitas, namun demikian sekolah
masih merupakan setting yang subur bagi pelayanan BK. Bentuk pelayanan BK
karier di sekolah mengarah pada upaya pemahaman diri siswa, pemahaman dan sikap
positif terhadap berbagai jenis
pekerjaan serta pemahaman dunia kerja, baik dari segi syarat maupun pemilihan
pekerjaan yang relevan dan menganalisis pekerjaan yang telah dipilih. Pada
akhirnya diharapkan siswa ataupun individu yang mendapatkan layanan BK karier
akan mampu memilih jenis pekerjaan yang akan ditekuni kelak di kemudian hari.
Semua
jenis layanan BK yang sesuai dan terbingkai pada komponen pelayanan dasar,
pelayanan responsif, perencanaan individual dan dukungan system bisa
diterapkan.
Pentingnya Informasi
Tentang Dunia Kerja
Untuk maksud pemahaman dunia kerja diperlukan
informasi pekerjaan dan pelaksanaan layanan bimbingan berupa pemberian
informasi, sangat mengandalkan tersedianya bahan informasi karier yang lengkap,
andal, dan selalu diperbarui.
Dengan bahan informasi yang lengkap dan akurat
konselor bisa lebih baik dalam membantu
siswa memperoleh pemahaman tentang lingkungan sekitar, khususnya dunia kerja.
Perpaduan antara pemahaman diri dan pemahaman dunia kerja dengan segala sifat
dan tuntutannya merupakan syarat penting bagi siswa dalam membuat rencana
pekerjaan. Pemahaman atas kenyataan diri dan kenyataan lingkungan ini lebih
penting artinya bagi para siswa SMA, karena mereka paling berkepentingan dalam
hal perencanaan kerja, mengingat segi usia, yang pada akhir masa remaja, sedang
menginjak tahapan perkembangan yang dituntut kebudayaan untuk lebih peduli dan
mulai serius memikirkan masa depan. Masa depan yang dimaksud kehidupan keluarga,
kehidupan bermasyarakat, dan ini selanjutnya berarti bekerja.
Berbagai informasi
pekerjaan
Informasi karier dibedakan menurut sifatnya, yaitu kuantitatif
atau kualitatif. Informasi
kuantitatif berupa angka atau jumlah, seperti penyebaran pekerjaan, arah
kecenderungannya, dan data banyaknya lowongan kerja. Informasi kualitatif
bercerita tentang sifat pekerjaan yang dilakukan, persyaratan yang dituntut
untuk bisa melakukan pekerjaan itu, imbalan, keadaan dan kondisi kerja itu.
·
Faktor-faktor yang
mendorong seseorang dalam memilih pekerjaan:
1) Motivasi berdasarkan sikap.
Motivasi berdasarkan sikap menyangkut bagaimana orang
berfikir dan merasa yang menyangkut keyakinan diri mereka, kepercayaan diri
mereka, sikap mereka terhadap kehidupan (positif-negatif).
2) Motivasi berdasarkan imbalan.
Motivasi berdasarkan imbalan adalah ketika seseorang
meraup imbalan dari satu aktivitas. Suatu jenis penghargaan atau hadiah atau
upah yang menggairahkan orang, yang memacu mereka untuk bekerja lebih keras
lagi.
·
Etika dalam bekerja :
1. Jangan mengatakan betapa
stresnya Anda terhadap pekerjaan
Jangan
bebankan tanggung jawab atau tugas Anda kepada orang lain. Jika Anda butuh
bantuan rekan kerja, mintalah tolong kepada mereka. Namun, jika tidak ada yang
mau membantu Anda, itu artinya Anda harus lebih disiplin dalam bekerja dan
pandai mengatur manajemen waktu Anda. Perlu di ketahui bahwa semua orang di lingkungan kerja memiliki
pekerjaannya masing-masing dan tidak akan bersimpati dengan beban kerja Anda.
Jadi tak ada gunanya jika Anda menunjukkan beban kerja Anda kepada mereka.
Lebih baik bekerja saja.
2. Ingatlah prestasi Anda
Mengapa
setiap karyawan harus mengingat prestasinya? Sebuah penelitian telah
membuktikan bahwa karyawan akan memberikan hasil yang lebih baik jika mereka
menyadari telah melakukan sebuah prestasi sebelumnya. Saat seseorang berada
dalam sebuah pekerjaan yang sama selama beberapa tahun, umumnya mereka sering
tak menyadari bahwa mereka sebenarnya telah melakukan banyak prestasi dalam
kerja mereka. Karena itulah, rekam atau tulis prestasi Anda sebagai pemicu
untuk melakukan yang lebih baik dalam setiap kerja Anda.
3. Datang tepat waktu saat
rapat dan acara lainnya
Saat
seseorang telat datang ke sebuah rapat atau acara, saat masuk ke dalam ruangan,
ia umumnya berusaha untuk tidak menarik perhatian, tapi justru gerakannya itu
malah akan semakin menarik perhatian. Kerugian lainnya, Anda akan ketinggalan
instruksi dari atasan Anda dan bisa jadi kehadiran Anda malah akan merusak
suasana yang sudah terbentuk dengan baik. Datang tepat waktu sama pentingnya
dengan rapat atau acara itunya sendiri. Saat Anda datang terlambat, maka setiap
orang akan menyadari kehadiran Anda sekaligus bertanya-tanya mengapa Anda bisa
telat? Apakah Anda tidak bisa melakukan manajemen waktu dengan baik? Selain
itu, datang terlambat artinya Anda terlambat memulai. Ujung-ujungnya, reputasi
Anda pun akan dipertanyakan oleh atasan dan rekan kerja.
4. Perhatikan kepentingan
rekan kerja
Tempat kerja
bukan rumah pribadi Anda. Karena itu, jangan menelepon dengan suara keras,
apalagi sampai menggunakan speakerphone hingga semua orang mampu
mendengar sekaligus terganggu dengan percakapan Anda. Jangan pula mengirim
terlalu banyak file untuk dicetak hingga tidak ada orang lain yang
bisa menggunakan printer. Intinya, jagalah etika Anda saat di tempat kerja demi
menjaga hubungan baik dengan rekan kerja.
5. Perluas keterampilan Anda
Jika Anda
tetap mengerjakan sesuatu yang Anda kerjakan tiga tahun lalu, maka Anda butuh
perubahan. Cobalah ikuti seminar, training, atau organisasi
profesional yang menawarkan sesuatu yang baru untuk menambah atau mempertajam
keahlian Anda.Keterampilan baru akan membuat Anda menjadi karyawan yang lebih
baik dan menjauhkan Anda dari rasa bosan terhadap pekerjaan yang tidak pernah
berubah.
6. Membangun hubungan baik
Jika di
setiap rapat, Anda selalu mengundang provokasi terhadap rekan kerja, atau
setiap Anda berhenti kerja, Anda akan menjelekjelekkan mantan atasan Anda, Anda
tidak akan mendapatkan simpati dari siapa pun. Bisa saja kejadian atau perilaku buruk Anda terjadi beberapa
tahun yang lalu, tapi ingatan akan buruknya perilaku Anda akan terus diingat
oleh mereka yang menyaksikan.
7. Mengetahui kapan waktunya
untuk meminta bantuan
Pekerjaan di
kantor bisa saja membludak atau berkembang tidak sesuai dengan dugaan Anda.
Saat itulah Anda membutuhkan rekan satu tim untuk menolong Anda. Ini adalah
cara terbaik agar Anda tidak kehilangan muka di depan atasan saat pekerjaan
sudah memasuki masa deadline.
8. Tahu apa yang Anda
kerjakan dan ke arah mana ia berjalan
Dalam karier, Anda harus tahu akan dibawa ke mana
karier Anda tersebut. Jika tidak, maka Anda akan menemukan diri Anda melakukan
hal yang sama yang Anda lakukan hari ini, 20 tahun kemudian. Maka
itulah,tetapkan tujuan Anda, sekecil apa pun, yang penting meningkat dari
posisi Anda sekarang.
9. Perhatikan penampilan
Tak peduli di
mana pun Anda, jangan sampai Anda menggunakan baju yang berbau tak sedap.
Namun, yang lebih penting, Anda harus memiliki pandangan soal citra apa yang
ingin Anda bentuk dengan pakaian Anda. Pakaian dan penampilan Anda harus sesuai
dengan citra perusahaan tempat Anda bekerja. Dengan kata lain, ingatlah tempat Anda bekerja, posisi Anda di kantor,
dan sesuaikan penampilan Anda dengan dua hal tersebut.
DAFTAR
PUSTAKA
Setiawati, Denok. 2012. Bimbingan Dan Konseling Karier.
Surabaya: UNESA University Press.
Munandir. 1996. Program Bimbingan Karier di Sekolah.
Jakarta: Depdikbud.
http://id.shvoong.com/social-science/education/2191930-pengertian
bekerja/#ixzz1nIj2YSbp.
Langganan:
Komentar (Atom)
