Get Gifs at CodemySpace.com
Tampilkan postingan dengan label Oleh: Annisa Ulfiandari (101014238). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oleh: Annisa Ulfiandari (101014238). Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Mei 2012

Enam Jenis Keterampilan

Ada beberapa pilihan keterampilan:

“R” untuk Realistis – Pribadi yang realistis menyukai kegiatan
kerja yang termasuk di dalam praktik, dan upaya memecahkan
masalah secara langsung. Mereka senang mengurusi tanaman,
binatang dan bahan-bahan alami misalnya kayu, perkakas dan
mesin. Mereka menyukai pekerjaan di luar ruangan. Sering
kali mereka tidak menyukai pekerjaan yang melulu mengurusi
masalah dokumentasi atau bekerja dengan orang lain.

“I” untuk Investigatif – Pribadi yang investigatif menyukai
pekerjaan yang berhubungan dengan gagasan/ide dan pemikiran
ketimbang pekerjaan fisik. Mereka senang mencari tahu fakta dan
memecahkan masalah secara mental ketimbang membujuk atau
mengarahkan orang lain.

“A” untuk Artistik – Pribadi yang artistik menyukai kegiatan yang
berhubungan dengan sisi artistik sesuatu hal misalnya bentuk,
rancangan dan pola. Mereka menyukai ekspresi jiwa dalam
pekerjaan mereka. Mereka lebih menyukai melakukan pekerjaan
tanpa harus mematuhi aturan tertentu.

“S” untuk Sosial – Pribadi yang bersifat sosial menyukai pekerjaan
yang membantu orang lain serta mendukung pengembangan
diri dan pembelajaran. Mereka lebih menyukai berkomunikasi
ketimbang bekerja dengan objek, mesin atau data. Mereka
senang mengajak, memberi nasihat, membantu atau melayani
orang lain.

“E” untuk Enterprising – Pribadi yang bersifat seperti pengusaha
ini menyukai pekerjaan yang berhubungan dengan memulai dan
melakukan proyek terutama usaha. Mereka senang membujuk
dan memimpin orang serta membuat keputusan. Mereka senang
mengambil risiko demi keuntungan. Kepribadian ini menyukai
aksi ketimbang berpikir.

“C” untuk Conventional – Pribadi yang bersifat konvensional ini
menyukai kegiatan yang mengikuti prosedur dan bersifat rutin.
Mereka menyukai bekerja dengan data dan rincian ketimbang
mencari gagasan. Mereka menyukai bekerja dengan standar
yang rinci ketimbang memutuskan bekerja dengan cara sendiri.
Kepribadian ini senang bekerja dimana garis wewenang terlihat
jelas.

Kompetensi Guru BK/Konselor

Berikut ini menjelaskan standard kompetensi minimum yang disyaratkan dari
Guru BK/Konselor di Indonesia. Meskipun manual yang ada saat ini tidak berusaha untuk
mencakup semua kompetensi ini, manual ini merupakan kerangka kerja yang penting bagi
muatan dari pekerjaan yang diusulkan:
Meliputi kategori kompetensi yang seharusnya dimiliki Guru BK/ Konselor :
A. Kompetensi Pedagogik
1. Menguasai teori dan praksis pendidikan;
2. Mengaplikasikan perkembangan fisiologis dan psikologis serta
    perilaku peserta didik;
3. Menguasai esensi pelayanan bimbingan dan konseling dalam
    jalur, jenis, dan jenjang satuan pendidikan;
B. Kompetensi Pribadi
4. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
5. Menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai
    kemanusiaan,individualitas dan kebebasan memilih;
6. Menunjukkan integritas dan stabilitas kepribadian yang kuat;
7. Menampilkan kinerja berkualitas tinggi;
C. Kompetensi Sosial
8. Mengimplementasikan kolaborasi intern di tempat bekerja;
9. Berperan dalam organisasi dan kegiatan profesi bimbingan dan
    konseling;
10. Mengimplementasikan kolaborasi antarprofesi;
D. Kompetensi Profesional
11. Menguasai konsep dan praktis penilaian (assessment) untuk
      memahami kondisi,kebutuhan, dan masalah peserta didik;
12. Menguasai kerangka teoretik dan praksis bimbingan dan
      konseling;
13. Merancang program Bimbingan dan Konseling;
14. Mengimplementasikan program Bimbingan dan Konseling yang
      komprehensif;
15. Menilai proses dan hasil kegiatan Bimbingan dan Konseling;
16. Memiliki kesadaran dan komitmen terhadap etika profesional;
17. Menguasai konsep dan praksis penelitian dalam bimbingan dan
      konseling.
      Guru BK/Konselor juga harus terus-menerus berupaya mengembangkan
kemampuannya. Terutama karena pasar kerja terus-menerus berubah, Guru BK/
Konselor juga harus berupaya memperbarui keterampilan dan pengetahuan
mereka sesuai dengan permintaan pasar kerja dan menunjukkan informasi yang
baru bagi peserta didik.

Sabtu, 12 Mei 2012

ANALISIS DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN MODEL KONSEPTUALISASI MASALAH


Contoh kasus:
            Cintya adalah seorang mahasiswi jurusan Hukum di UB yang sedang menjalani perkuliahan semester 4, Cintya menceritakan bahwa dia seringkali merasa tertekan dan bosan dengan suasana dan kondisi dirumahnya. Menurutnya, adiknya yang menyebalkan membuat dia selalu bertengkar hanya karena permasalahan kecil, misalnya adiknya yang tidak mau meminjamkan barangnya kepada cintya, sikap adiknya yang semaunya sendiri, bahkan sampai bersikap agresif terhadap Cintya. Hal demikianlah yang akhirnya membuat Cintya merasa geram dan marah. Dari situlah Cintya sering melakukan perilaku yang kurang baik, seperti memulai perkelahian karena merasa jengkel dengan sikap adiknya tersebut, sering mengambil barang adiknya tanpa seijinnya, bahkan Cintya tidak mau mengalah sedikitpun kepada adiknya karena terlalu jengkel.
Cintya menuturkan bahkan dia pernah sampai menangis saat bertengkar dengan sang adik. Akan tetapi ibunya selalu saja membela adiknya dan selalu menyalahkannya, bahkan ketika Cintya bermaksud meluruskannya dia tidak berani menyampaikan kepada ibunya. Akhirnya Cintyapun berprasangka bahwa ibunya lebih menyayangi adiknya dari pada dirinya. Apapun yang diinginkan oleh adiknya selalu saja dituruti dan dipenuhi ibunya. Sempat Cintya berpikir serta mengatakan “Apakah saya tidak pantas menjadi seorang kakak yang baik”, karena dia merasa ibunya sendiri tidak adil terhadapnya, dan terus menerus menyalahkannya. Begitu pula dengan ayahnya, yang cenderung cuek dan tidak peduli terhadapnya. Keadaan inilah yang membuat Cintya dirumah merasa kurang mendapatkan perhatian dari kedua orangtuanya, apalagi ibunya yang lebih memprioritaskan adiknya. Hal tersebut yang kemudian membuatnya di kampus cenderung menjadi anak yang pendiam dan mudah cemas dalam menghadapi situasi. Mungkin karena sikap orangtuanya yang kurang memperhatikannya menyebabkan dia tidak dapat mengatur pola makan dengan baik, hingga Cintya seringkali menderita magh, mudah kecapekan, dan sering sakit kepala. Di lain sisi dalam perkuliahan yang dijalaninya, dia termasuk anak yang taat terhadap peraturan yang ditetapkan, seperti hadir tepat waktu dan mengerjakan tugas tepat waktu. Ketika ujian dia juga berusaha untuk mengerjakannya sendiri serta sejauh ini dia dapat memperoleh IP dengan skor yang memuaskan.

Hasil Analisis:
1.    Model konseptualisasi masalah dari Swensen
Perilaku Menyimpang
Tekanan
Kebiasaan Maladaptif
·   Memulai perkelahian dengan adiknya
·    Memiliki adik yang agresif dan seenaknya sendiri
·    Hubungan dengan orangtua tidak harmonis, ditandai dengan sikap ibu yang lebih memprioritaskan adiknya, serta ayah yang tidak peduli terhadapnya.

·  Sering mengambil barang tanpa seijin adiknya
·  Tidak berani meluruskan permasalahannya dengan sang adik kepada ibunya
·  Mudah cemas dalam menghadapi situasi
·  Tidak dapat mengatur pola makan
Dukungan
Potensi
Kebiasaan Adaptif
·   Konselor bersedia membantu memecahkan masalah Citra sebagai seorang klien
·   Kinerja yang baik dalam keseharian di kelas
·   Skor IQ yang cukup baik ditandai dengan hasil IP di tiap semester yang cukup memuaskan
·  Selalu berusaha mengerjakan ujian dengan jujur
·   Taat terhadap peraturan perkuliahan, seperti: hadir tepat waktu dan juga mengerjakan tugas tepat waktu



2.    Model konseptualisasi masalah dari Seay
Kemungkinan Lingkungan
Kesalahan Kognitif
Gangguan Afektif
Pola Perilaku
1.     Sikap ayah yang cenderung cuek dan tidak peduli
2.     Ibu yang lebih memprioritaskan adiknya dan selalu menyalahkannya
3.     Saudara (adiknya) yang menyebalkan/ semaunya sendiri
4.     Prestasi belajar cukup baik
5.     Kurang mendapatkan perhatian dari kedua orangtua

1.   Pikiran gagal karena merasa tertekan
2.   Menyalahkan diri dengan berpikir bahwa dirinya tidak pantas menjadi seorang kakak yang baik

1. Mudah mengalami kecemasan dalam menghadapi situasi
2. Merasa geram dan marah dengan sikap adiknya yang agresif
3. Merasa tertekan karena selalu disalahkan dan kurang mendapat perhatian orangtua
1.    Tidak mau mengalah sedikitpun dengan sang adik
2.    Pernah menangis saat bertengkar dengan adiknya karena terlalu jengkel
3.    Tidak dapat menjaga kesehatan dengan baik
4.    Tidak memiliki keberanian meluruskan permasalahan yang terjadi dengan adiknya kepada ibunya



3. Model konseptualisasi masalah dari Lazarus
Modalitas
Amatan
B: Behavior (perilaku)
·  Cintya menjadi anak yang cenderung pendiam di kelas
·      Mengambil barang adiknya
·      Tidak mau mengalah dengan sang adik
·      Menyalahkan diri sendiri

A: Affect (emosi, perasaan)
·      Mudah cemas dalam menghadapi situasi
·      Merasa sedih, tertekan dan serba salah
·  Merasa kurang mendapatkan perhatian dari orangtua
·   Merasa geram dan marah dengan sikap adiknya yang agresif dan semaunya sendiri

S: Sensation (perasaan tubuh)
·  Merasakan ketegangan saat berhadapan dengan ibunya

I: Imagery (imajeri)
·     Cintya berprasangka bahwa ibunya lebih menyayangi adiknya dari pada dirinya, dari sinilah dia merasa tertekan

C: Cognition (kognisi)
·  Cintya berpikir bahwa dia tidak pantas menjadi seorang kakak yang baik
·      Merasa ibunya tidak adil terhadapnya
·  Tidak berani meluruskan kepada ibunya tentang permasalahan yang dihadapi bersama adiknya karena Cintya berpikir ibunya pasti akan tetap menyalahkannya

I: Interpersonal (hubungan/ relasi interpersonal)
·   Hubungan Cintya dengan kedua orangtuanya tidak harmonis, dikarenakan ibu yang lebih memprioritaskan adik dan ayahnya yang tidak peduli
·  Hubungannya dengan sang adik yang juga tidak harmonis (selalu bertengkar)

D: Drug (tampilan fisik)
·    Karena tidak dapat mengatur pola makan dengan baik, membuatnya sering menderita magh, mudah kecapekan, dan sering sakit kepala.


4. Model konseptualisasi perilaku ABC
ABC
Amatan
A: Antecedent (peristiwa yang mendahului)
· Sikap ibu yang selalu menyalahkan Cintya dengan memprioritaskan adiknya
· Sikap Ayah yang cenderung cuek dan tidak peduli
·  Sikap Adiknya yang agresif dan semaunya sendiri
·  Kurang mendapatkan perhatian orangtua

B: Behavior (perilaku)
·      Cintya cenderung pendiam di kelas
·      Cintya menyalahkan dirinya dengan berpikir tidak pantas menjadi seorang kakak yang baik
·      Marah dan geram dengan sikap adiknya

C: Consequences (konsekuensi)
· Karena kurangnya perhatian dari orangtua, membuat Citra tidak dapat menjaga kesehatannya sendiri dengan tidak dapat mengatur pola makan yang baik
·      Selalu disalahkan oleh ibunya

APLIKASI BK KARIER DALAM PEMILIHAN PEKERJAAN


Bekerja adalah melakukan aktivitas untuk mendapatkan penghasilan yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Perlu ditanamkan dalam diri masing-masing orang yang bekerja bahwa apa yang dia lakukan adalah dalam rangka ibadah, (al-Nawiy 2007). Apabila hal itu dilakukan maka dia akan berusaha bekerja dengan sungguh-sungguh dan hidupnya menjadi lebih tentram. Berikut ini disajikan pentingnya bekerja dari beberapa segi menurut Surya (1990).
1.      Individu
            a.       Memenuhi kebutuhan dalam bidang keuangan dan panggilan hidup
            b.      Memenuhi kebutuhan fisik
           c.       Memenuhi kebutuhan psikis: harga diri, identitas diri, penghargaan dari orang lain, kepuasan pribadi,   penentuan gaya hidup, motivasi berprestasi, peningkatan percaya diri.
           d .      Pergaulan dan wawasan lebih luas
           e.       Merasa bagian dari kelompok (sense of belongingness)
           f.        Pengisi waktu dalam sebagian besar kehidupan individu
2.      Keluarga
            a.       Adanya sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan
            b.      Kebanggan keluarga
            c.       Terlepanya sebagian beban keluarga
            d.      Penghargaan masyarakat pada keluarga
            e.       Keberhasilan dambaan keluarga
            f.       Peningkatan kesejahteraan keluarga
3.      Masyarakat
            a.       Adanya produksi barang dan jasa
            b.      Tersedianya Man Power
            c.       Tersedianya modal, bahan mentah, dan teknologi
            d.      Memperlancar roda ekonomi
4.      Negara
            a.       Sebagai aset nasional
            b.      Modal pembangunan bangsa
            c.       Dapat memperlancar kerja sama antar Negara
            d.      Sebagai modal untuk kemajuan bangsa
Bekerja pada dasarnya tidak hanya bermanfaat untuk diri sendiri, tetapi juga bermanfaat bagi keluarga, masyarakat dan bangsa. Para pekerja dapat mendorong adanya produk barang, tersedianya Man Power, yang dapat menjadi asset nasional bagi negara, juga memperlancar kerjasama antar Negara, dan modal peningkatan kemajuan. Selain itu perlu ditanamkan dalam diri masing-masing orang yang bekerja bahwa apa yang dia lakukan adalah dalam rangka ibadah. Apabila hal itu dilakuakan maka dia akan berusaha bekerja dengan sungguh-sungguh dan hidupnya menjadi lebih tentram.
Selain itu menurut al-Nawiy (2007) ada juga beberapa hal yang perlu diperhatikan seseorang dalam bekerja antara lain:
1.        Amanah dalam bekerja
2.        Tidak curang
3.        Tidak merampas hak orang lain
4.        Tidak menipu/berdusta
5.        Tidak bersumpah palsu
6.        Tidak mengambil suap
7.        Tidak mengeksploitasi kecantikan/ketampanan
8.        Tidak bergosip
9.        Tidak bersepi-sepi dengan lawan jenis
10.    Tidak memata-matai
Meskipun bimbingan dan konseling karier telah berkembang deng pesat, bahkan dalam perkembangannya bisa diterapkan pada berbagai komunitas, namun demikian sekolah masih merupakan setting yang subur bagi pelayanan BK. Bentuk pelayanan BK karier di sekolah mengarah pada upaya pemahaman diri siswa, pemahaman dan sikap positif  terhadap berbagai jenis pekerjaan serta pemahaman dunia kerja, baik dari segi syarat maupun pemilihan pekerjaan yang relevan dan menganalisis pekerjaan yang telah dipilih. Pada akhirnya diharapkan siswa ataupun individu yang mendapatkan layanan BK karier akan mampu memilih jenis pekerjaan yang akan ditekuni kelak di kemudian hari.
Semua jenis layanan BK yang sesuai dan terbingkai pada komponen pelayanan dasar, pelayanan responsif, perencanaan individual dan dukungan system bisa diterapkan.

Pentingnya Informasi Tentang Dunia Kerja
Untuk maksud pemahaman dunia kerja diperlukan informasi pekerjaan dan pelaksanaan layanan bimbingan berupa pemberian informasi, sangat mengandalkan tersedianya bahan informasi karier yang lengkap, andal, dan selalu diperbarui.
Dengan bahan informasi yang lengkap dan akurat konselor bisa lebih  baik dalam membantu siswa memperoleh pemahaman tentang lingkungan sekitar, khususnya dunia kerja. Perpaduan antara pemahaman diri dan pemahaman dunia kerja dengan segala sifat dan tuntutannya merupakan syarat penting bagi siswa dalam membuat rencana pekerjaan. Pemahaman atas kenyataan diri dan kenyataan lingkungan ini lebih penting artinya bagi para siswa SMA, karena mereka paling berkepentingan dalam hal perencanaan kerja, mengingat segi usia, yang pada akhir masa remaja, sedang menginjak tahapan perkembangan yang dituntut kebudayaan untuk lebih peduli dan mulai serius memikirkan masa depan. Masa depan yang dimaksud kehidupan keluarga, kehidupan bermasyarakat, dan ini selanjutnya berarti bekerja.
Berbagai informasi pekerjaan
Informasi karier dibedakan menurut sifatnya, yaitu kuantitatif atau kualitatif. Informasi kuantitatif berupa angka atau jumlah, seperti penyebaran pekerjaan, arah kecenderungannya, dan data banyaknya lowongan kerja. Informasi kualitatif bercerita tentang sifat pekerjaan yang dilakukan, persyaratan yang dituntut untuk bisa melakukan pekerjaan itu, imbalan, keadaan dan kondisi kerja itu.
·           Faktor-faktor yang mendorong seseorang dalam memilih pekerjaan:
1)      Motivasi berdasarkan sikap.
Motivasi berdasarkan sikap menyangkut bagaimana orang berfikir dan merasa yang menyangkut keyakinan diri mereka, kepercayaan diri mereka, sikap mereka terhadap kehidupan (positif-negatif).
2)      Motivasi berdasarkan imbalan.
Motivasi berdasarkan imbalan adalah ketika seseorang meraup imbalan dari satu aktivitas. Suatu jenis penghargaan atau hadiah atau upah yang menggairahkan orang, yang memacu mereka untuk bekerja lebih keras lagi.
 
·           Etika dalam bekerja :
1.      Jangan mengatakan betapa stresnya Anda terhadap pekerjaan
Jangan bebankan tanggung jawab atau tugas Anda kepada orang lain. Jika Anda butuh bantuan rekan kerja, mintalah tolong kepada mereka. Namun, jika tidak ada yang mau membantu Anda, itu artinya Anda harus lebih disiplin dalam bekerja dan pandai mengatur manajemen waktu Anda. Perlu di ketahui bahwa semua orang di lingkungan kerja memiliki pekerjaannya masing-masing dan tidak akan bersimpati dengan beban kerja Anda. Jadi tak ada gunanya jika Anda menunjukkan beban kerja Anda kepada mereka. Lebih baik bekerja saja.
2.      Ingatlah prestasi Anda
Mengapa setiap karyawan harus mengingat prestasinya? Sebuah penelitian telah membuktikan bahwa karyawan akan memberikan hasil yang lebih baik jika mereka menyadari telah melakukan sebuah prestasi sebelumnya. Saat seseorang berada dalam sebuah pekerjaan yang sama selama beberapa tahun, umumnya mereka sering tak menyadari bahwa mereka sebenarnya telah melakukan banyak prestasi dalam kerja mereka. Karena itulah, rekam atau tulis prestasi Anda sebagai pemicu untuk melakukan yang lebih baik dalam setiap kerja Anda.
3.      Datang tepat waktu saat rapat dan acara lainnya
Saat seseorang telat datang ke sebuah rapat atau acara, saat masuk ke dalam ruangan, ia umumnya berusaha untuk tidak menarik perhatian, tapi justru gerakannya itu malah akan semakin menarik perhatian. Kerugian lainnya, Anda akan ketinggalan instruksi dari atasan Anda dan bisa jadi kehadiran Anda malah akan merusak suasana yang sudah terbentuk dengan baik. Datang tepat waktu sama pentingnya dengan rapat atau acara itunya sendiri. Saat Anda datang terlambat, maka setiap orang akan menyadari kehadiran Anda sekaligus bertanya-tanya mengapa Anda bisa telat? Apakah Anda tidak bisa melakukan manajemen waktu dengan baik? Selain itu, datang terlambat artinya Anda terlambat memulai. Ujung-ujungnya, reputasi Anda pun akan dipertanyakan oleh atasan dan rekan kerja.

4.   Perhatikan kepentingan rekan kerja
Tempat kerja bukan rumah pribadi Anda. Karena itu, jangan menelepon dengan suara keras, apalagi sampai menggunakan speakerphone hingga semua orang mampu mendengar sekaligus terganggu dengan percakapan Anda. Jangan pula mengirim terlalu banyak file untuk dicetak hingga tidak ada orang lain yang bisa menggunakan printer. Intinya, jagalah etika Anda saat di tempat kerja demi menjaga hubungan baik dengan rekan kerja.
5.    Perluas keterampilan Anda
Jika Anda tetap mengerjakan sesuatu yang Anda kerjakan tiga tahun lalu, maka Anda butuh perubahan. Cobalah ikuti seminar, training, atau organisasi profesional yang menawarkan sesuatu yang baru untuk menambah atau mempertajam keahlian Anda.Keterampilan baru akan membuat Anda menjadi karyawan yang lebih baik dan menjauhkan Anda dari rasa bosan terhadap pekerjaan yang tidak pernah berubah.
6.    Membangun hubungan baik
Jika di setiap rapat, Anda selalu mengundang provokasi terhadap rekan kerja, atau setiap Anda berhenti kerja, Anda akan menjelekjelekkan mantan atasan Anda, Anda tidak akan mendapatkan simpati dari siapa pun. Bisa saja kejadian atau perilaku buruk Anda terjadi beberapa tahun yang lalu, tapi ingatan akan buruknya perilaku Anda akan terus diingat oleh mereka yang menyaksikan.
7.    Mengetahui kapan waktunya untuk meminta bantuan
Pekerjaan di kantor bisa saja membludak atau berkembang tidak sesuai dengan dugaan Anda. Saat itulah Anda membutuhkan rekan satu tim untuk menolong Anda. Ini adalah cara terbaik agar Anda tidak kehilangan muka di depan atasan saat pekerjaan sudah memasuki masa deadline.
8.   Tahu apa yang Anda kerjakan dan ke arah mana ia berjalan
Dalam karier, Anda harus tahu akan dibawa ke mana karier Anda tersebut. Jika tidak, maka Anda akan menemukan diri Anda melakukan hal yang sama yang Anda lakukan hari ini, 20 tahun kemudian. Maka itulah,tetapkan tujuan Anda, sekecil apa pun, yang penting meningkat dari posisi Anda sekarang.
9.    Perhatikan penampilan
Tak peduli di mana pun Anda, jangan sampai Anda menggunakan baju yang berbau tak sedap. Namun, yang lebih penting, Anda harus memiliki pandangan soal citra apa yang ingin Anda bentuk dengan pakaian Anda. Pakaian dan penampilan Anda harus sesuai dengan citra perusahaan tempat Anda bekerja. Dengan kata lain, ingatlah tempat Anda bekerja, posisi Anda di kantor, dan sesuaikan penampilan Anda dengan dua hal tersebut.


DAFTAR PUSTAKA

Setiawati, Denok. 2012. Bimbingan Dan Konseling Karier. Surabaya: UNESA University Press.
Munandir. 1996. Program Bimbingan Karier di Sekolah. Jakarta: Depdikbud.