Get Gifs at CodemySpace.com
Tampilkan postingan dengan label MK: BK Belajar (Semester 4). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MK: BK Belajar (Semester 4). Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 April 2012

Layanan Bimbingan Pengembangan Perilaku Non- Adaptif Untuk Penderita Tunagrahita


Tunagrahita adalah anak yang mengalami hambatan dan keterbelakangan perkembangan mental yang memiliki intelektual jauh dibawah rata-rata sehingga mengalami kesulitan dalam tugas akademik, komunikasi maupun sosial.
Bimbingan pengembangan perilaku adaptif siswa tunagrahita di sekolah tingkat sekolah dasar atau sekolah reguler dengan pendekatan inklusi merupakan bimbingan pribadi- sosial dan konselingnya bersifat perseorangan. Konseling terhadap siswa tunagrahita dilakukan karena mereka banyak mengalami gangguan- gangguan emosional disebabkan oleh kondisi sosial yang negatif, disamping mereka sendiri tidak mampu melakukan komunikasi secara verbal (Bootzin, R. R. & Acocella, J. R., 1988: 485). Layanan konseling perorangan memungkinkan peserta didik tunagrahita mendapatkan layanan langsung oleh guru kelas selaku konselor. Bentuk bimbingan dan konseling terhadap siswa tunagrahita di sekolah perlu adanya penyesuaian yang berdasarkan atas karakteristik khusus, kebutuhan setiap siswa, tujuan dan sasaran, serta aspek perkembangan pribadi- sosial.
Tujuan bimbingan pengembangan prilaku non- adaptif siswa tunagrahita di tingkat sekolah dasar, antara lain:
a.         Membantu siswa tunagrahita agar secara sosio- emosional dapat melalui masa transisi dari lingkungan sekolah taman kanak- kanak/ lingkungan keluarga ke lingkungan sekolah dasar.
b.         Membantu siswa tunagrahita agar dapat mengatasi kesulitan yang dihadapinya, baik dalam kegiatan belajar maupun pendidikan pada umumnya.
c.         Membantu siswa tunagrahita dalam upaya untuk mampu memahami keadaan dirinya dan lingkungan hidupnya (kelebihan, kekurangan, dan kelainan yang ia sandang).
d.        Membantu orang tua siswa yang bersangkutan dalam memahami anaknya sebagai makhluk individual maupun makhluk sosial, serta kebutuhan- kebutuhannya.

Sasaran layanan bimbingan pengembangan prilaku non- adaptif di sekolah yang menangani siswa tunagrahita meliputi:
a.         Bimbingan ditujukan kepada semua individu yang berkelainan tanpa memandang umur, suku, agama, dan status sosial ekonomi.
b.         Bimbingan berurusan dengan pribadi yang berkelainan serta unik.
c.         Bimbingan memperhatikan sepenuhnya terhadap tahap dan berbagai aspek perkembangan individu yang berkelainan, sehingga dapat mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimiliki individu siswa tunagrahita.
d.        Bimbingan memberikan perhatian utama kepada perbedaan individu yang berkelainan yang menjadi pokok layanannya.

Program layanan bimbingan pengembangan prilaku non- adaptif di sekolah yang menangani siswa tunagrahita merupakan bagian integral dari pendidikan itu sendiri dan sebagai pengembangan kompetensi individu semaksimal dan seoptimal mungkin melalui pemberian aktivitas di kelas dan di luar kelas. Pola bimbingannya merupakan aplikasi fungsi dan peran bimbingan secara terpadu ke dalam program pembelajaran. Aplikasi fungsi dan peran bimbingan perlu disesuaikan dengan karakteristik siswa tunagrahita yang bersangkutan, yaitu adanya deviasi paad aspek mental/ sosial, fisik, intelektual, dan emosional. (Hadis, A., 2000: 292- 293).
Konseling perkembangan bersifat preventif yang berorientasi pada pendidikan tidak kepada bentuk- bentuk remedial (Blocher, 1966 dalam Gumaer, J., 1984: 6), dan direncanakan khusus agar dapat membantu siswa tunagrahita untuk dapat menyadari akan keberadaan diri serta kemampuan yang dimilikinya, sehingga melalui konseling perkembangan ini siswa tunagrahita dapat meningkatkan potensi diri sesuai dengan kemampuan fungsional yang dimilikinya (Gumaer, J., 1984: 5-6).
Fokus konseling perkembangan menurut Dinkmayer tertuju pada usaha- usaha memberikan bantuan kepada setiap individu untuk dapat memahami keberadaan dirinya. Konselor harus mampu memahami perkembangan anak, sosial, emosional, dan pola belajar anak yang menjadi kliennya (Gumaer, J., 1984: 6).

Adapun fungsi bimbingan dan konseling di sekolah yang menangani siswa tunagrahita, antara lain:
1.         Fungsi pemahaman pengembangan, yaitu fungsi bimbingan konseling yang akan menghasilkan pemahaman tentang sesuatu, sesuai dengan keperluan perkembangan peserta didik;
2.         Fungsi pencegahan, yaitu fungsi bimbingan konseling yang akan menghasilkan upaya- upaya agar peserta didik terhindar dari berbagai permasalahan yang dapat mengganggu, menghambat, ataupun dapat menimbulkan kesulitan dalam proses perkembangan diri;
3.         Fungsi perbaikan, yaitu bimbingan konseling yang dapat mengatasi berbagai permasalahan yang dialami peserta didik;
4.         Fungsi pemeliharaan, yaitu upaya- upaya agar dapat memelihara dan mengembangkan berbagai potensi dan kondisi positif dari setiap peserta didik dalam rangka perkembangan diri secara mantap dan berkelanjutan.
Selain pendekatan perkembangan, pelaksanaan layanan bimbingan konseling di sekolah perlu dilakukan melalui pendekatan secara terpadu dengan seluruh kegiatan pendidikan yang ada di sekolah (dalam kurikulum, maupun ekstra kurikuler).

Menurut Natawidjaya, R. (1984: 123) bahwa kegiatan bimbingan yang dilakukan guru dalam proses belajar mengajar secara umum dapat dikelompokkan menjadi:
(1)      Mengenal dan memahami siswa secara mendalam,
(2)      Memperlakukan siswa berdasarkan perbedaan individual,
(3)      Memperlakukan siswa secara manusiawi,
(4)      Mamberi kemudahan kepada siswa- siswa untuk mengembangkan diri secara optimal,
(5)      Memelihara suasana kelas supaya tetap menyenangkan bagi siswa.
Adapun indikator dalam menelaah penerapan peran bimbingan oleh guru dalam proses belajar- mengajar menurut Natawidjaya, R. (1984: 124), diantaranya sebagai berikut:
1.         Mengembangkan iklim kelas yang bebas dari ketegangan dan yang bersuasana membantu perkembangan siswa.
2.         Memberikan pengarahan/ orientasi dalam rangka belajar yang efektif, baik secara khususdalam bidang yang diajarkannya, maupun secara umum dalam keseluruhan persekolahan.
3.         Mempelajari dan menelaah siswa untuk menemukan kekuatan, kelemahan, kebiasaan, dan kesulitan yang dihadapinya, terutama dalam hubungannya dengan bidang studi yang diajarkannya.
4.         Penyuluhan tak resmi kepada siswa yang menghadapi kesulitan tertentu, terutama dalam hubungannya dengan bidang studi yang diajarkannya.
5.         Menyajikan informasi tentang masalah pendidikan dan jabatan guru, dalam memberikan pelajaran dapat memadukan berbagai informasi yang sangat berguna bagi siswa, dalam hal ini perencanaan kelanjutan belajar dan perencanaan pekerjaan setelah lulus dari sekolah yang bersangkutan, dll.

Teknik bimbingan pengembangan prilaku non- adaptif dapat diterapkan dengan: 
1.         Teknik direktif, berupa layanan bimbingan yang inisiatifnya sebagian besar datang dari konselor, dalam hal ini guru pendidikan luar biasa. Dalam pelaksanaannya, penggunaan pola persuasif sangat memegang peran penting untuk merubah sikap dan prilaku salah suai siswa. (Heesacker, M., et. Al. 1995: 611);
2.         Teknik non- direktif, seluruh inisiatif bimbingan konseling muncul dari siswa yang bersangkutan;
3.         Teknik eklektik, yaitu layanan bimbingan konseling yang memadukan teknik direktif dan non- direktif. Pemilihan teknik tersebut oleh konselor bergantung kepada kriteria sebagai berikut:
a.    Sifat masalah yang dihadapi,
b.    Jumlah peserta didik yang akan dibimbing,
c.    Kondisi penyuluh atau petugas bimbingan konseling.
Agar pencapaian sasaran bimbingan pengembangan prilaku adaptif dapat terwujud dengan baik diperlukan kegiatan pendukung bimbingan, meliputi:
(1)     Aplikasi instrumen bimbingan pribadi-sosial, meliputi kegiatan pengungkapan dan pengumpulan data berkaitan dengan kemampuan dan kondisi lingkungan sosial siswa, berupa kemampuan berkomunikasi, menerima dan menyampaikan pendapat, kemampuan berprilaku dan berhubungan sosial, hubungan dengan teman sebaya, dll.
(2)     Penghimpunan data, bermaksud mengumpulkan seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan siswa tunagrahita dalam berbagai aspeknya. Data yang dihimpun merupakan hasil aplikasi instrumentasi bimbingan.
(3)     Pembahasan kasus, dilakukan secara spesifikasi untuk mengkaji permasalahan tertentu yang dialami oleh siswa tunagrahita dalam suatu forum diskusi yang dihadiri oleh pihak- pihak terkait, seperti konselor, wali kelas, guru bidang studi, kepala sekolah, orang tua, dll. Pembahasan kasus bersifat terbatas dan tertutup. Dalam pembahasan kasus dibicarakan berbagai permasalahan yang dialami oleh siswa tunagrahita yang bersangkutan.
4.         Teknik akhir, merupakan suatu pernyataan transformasi kedalam atau keluar dari suatu situasi pura- pura atau membatasi suatu peran, misalnya: “Ini adalah kereta api” sambil menunjukkan ke sebuah sofa sebagai pernyataan.
(4)     Kunjungan rumah, mempunyai dua tujuan yaitu:
(a)      Memperoleh berbagai keterangan yang diperlukan dalam pemahaman lingkungan dan permasalahan siswa tunagrahita;
(b)     Pembahasan dan penyelesaian masalah siswa yang bersangkutan. Kegiatannya bersifat pengamatan dan wawancara.
Alih tangan kasus, dalam bimbingan pribadi-sosial siswa tunagrahita dimaksudkan sebagai upaya mengalihtangankan kasus khusus dari siswa yang bersangkutan oleh: guru, wali kelas, orang tua, dan staf sekolah lainnya kepada konselor atau guru pembimbing khusus. Selanjutnya konselor dapat melanjutkan alih tangan kasus siswa tunagrahita yang bermasalah secara bersama antara pembimbing dengan siswa yang bersangkutan.

Minggu, 08 April 2012

SLOW LEARNER


PePengertian Slow Learner
Slow learner atau anak lambat belajar adalah mereka yang memiliki prestasi belajar rendah (di bawah rata-rata anak pada umumnya) pada salah satu atau seluruh area akademik, tapi mereka ini bukan tergolong anak terbelakang mental. Skor tes IQ mereka menunjukkan skor anatara 70 dan 90 (Cooter & Cooter Jr., 2004; Wiley, 2007). Dengan kondisi seperti demikian, kemampuan belajarnya lebih lambat dibandingkan dengan teman sebayanya.Siswa yang lambat dalam proses belajar ini membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.
Tidak hanya kemampuan akademiknya yang terbatas tapi juga pada kemampuan-kemampuan lain, diantaranya kemampuan koordinasi (kesulitan menggunakan alat tulis, olahraga, atau mengenakan pakaian). Dari sisi perilaku, mereka cenderung pendiam dan pemalu, dan mereka kesulitan untuk berteman. Anak-anak lambat belajar ini juga cenderung kurang percaya diri.
Slow-Learner dan Kemampuan Aktualisasi Diri Belajar pada dasarnya merupakan proses usaha aktif seseorang untuk memperoleh sesuatu, sehingga terbentuk perilaku baru menuju arah yang lebih baik. Kenyataannya, para siswa seringkali tidak mampu mencapai tujuan belajarnya atau tidak memperoleh perubahan tingkah laku sebagai mana yang diharapkan. Hal itu menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan belajar yang merupakan hambatan dalam mencapai hasil belajar.

B.     Karakteristik Slow learner
Anak yang mengalami kelambanan belajar (Slow Learner) mempunyai karakteristik sebagai berikut:
·         Berfungsinya kemampuan kognisi, hanya saja di bawah level normal.
·         Cenderung tidak matang dalam hubungan interpersonal.
·         Memiliki kesulitan dalam mengikuti petunjuk-petunjuk yang memiliki banyak langkah.
·         Hanya memiliki sedikit strategi internal, seperti kemampuan organisasional, kesulitan dalam belajar dan menggeneralisasikan informasi.
·         Nilai-nilai yang biasanya buruk dalam tes prestasi belajar.
·         Dapat bekerja dengan baik dalam hand-on materials, yaitu materi-materi yang telah dipersingkat dan diberikan pada anak, seperti kegiatan di laboratorium dan kegiatan manipulatif.
·         Memiliki self-image yang buruk.
·         Menguasai keterampilan dengan lambat, beberapa kemampuan bahkan sama sekali tidak dapat dikuasai.
·         Memiliki daya ingat yang memadai, tetapi mereka lambat mengingat.
·         Rata-rata prestasi belajarnya selalu rendah (kurang dari 6).
·         Dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik sering terlambat dibandingkan teman-teman seusianya.
·         Daya tangkap terhadap pelajaran lambat.

C.    Faktor Penyebab Slow Learner
1.      Faktor internal/faktor genetik/hereditas berupa intelegensi.
2.    Faktor eksternal yaitu penyebab utama problem anak lamban belajar(slow learner) yang berupa strategi pembelajaran yang salah atau tidak tepat, pengelolaan kegiatan pembelajaran yang tidak membangkitkan motivasi belajar anak dan pemberian ulangan penguatan yang tidak tepat. Meskipun faktor genetik memiliki pengaruh yang kuat, namun lingkungan juga merupakan faktor penting. Lingkungan benar-benar menimbulkan perbedaan inteligensi. Gen dapat dianggap sebagai penentu batas atas dan bawah inteligensi atau penentu rentang kemampuan intelektual, tetapi pengaruh lingkungan akan menentukan di mana letak IQ anak dalam rentang tersebut (Atkinson, dkk, 1983, h. 135). Kondisi lingkungan ini meliputi nutrisi, kesehatan, kualitas stimulasi, iklim emosional keluarga, dan tipe umpan balik yang diperoleh melalui perilaku. Nutrisi meliputi nutrisi selama anak dalam kandungan, pemberian ASI setelah kelahiran, dan pemenuhan gizi lewat makanan pada usia di mana anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Nutrisi penting sekali bagi perkembangan otak anak. Nutrisi erat kaitannya dengan kesehatan anak. Anak yang sehat perkembangannya akan lebih optimal. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Beyley bahwa status sosial-ekonomi keluarga mempengaruhi IQ anak (Atkinson, dkk, 1983, h. 137): Efek Lingkungan yang Berbeda terhadap IQ dapat disimpulkan bahwa, individu dapat memiliki IQ sekitar 65 jika dibesarkan di lingkungan miskin, tetapi dapat memiliki IQ lebih dari 100 jika dibesarkan di lingkungan sedang atau kaya. Penelitian tersebut menjelaskan hubungan yang erat antara kondisi sosial-ekonomi keluarga dengan variabel lingkungan, seperti nutrisi, kesehatan, kualitas stimulasi, iklim emosional keluarga dan tipe umpan balik yang diperoleh melalui perilaku. Kondisi keluarga mempengaruhi bagaimana keluarga mengasuh anak mereka.

D.    Dampak dari Anak Slow Learner
·         Anak akan mengalami perasaan minder tehadap teman-temannya karena kemampuan belajarnya lamban jika dibandingkan teman-teman sebayanya.
·         Anak cenderung bersikap pemalu, menarik diri dari lingkungan sosialnya dan lamban menerima informasi.
·         Hasil prestasi belajar yang kurang optimal sehingga dapat membuat anak menjadi stress karena ketidak mampuannya mencapai apa yang diharapkannya.
·         Karena ketidak mampuannya mengikuti pelajaran dikelas, hal tersebut dapat membuat anak tidak naik kelas.
·         Mendapatkan lebel yang kurang baik dari teman-temannya.

E.     Perlakuan  dan Bimbingan Terhadap Anak Slow Learner
Ø  Penanganan yang dilakukan guru terhadap anak Slow Learner
1.      Isi materi diulang-ulang lebih banyak (3-5 kali) dibandingkan dengan teman sebayanya dalam  memahami suatu materi daripada anak lain dengan kemampuan rata-rata. Maka, dibutuhkan penguatan kembali melalui aktivitas praktek dan yang familiar, yang dapat membantu proses generalisasi.
2.      Sediakan waktu khusus untuk membimbingnya secara individual atau privat. Tujuan tutorial bukanlah untuk menaikkan prestasinya, tetapi membantunya untuk optimis terhadap kemampuannya dan menghadapkannya pada harapan yang realistik dan dapat dicapainya.
3.      Waktu materi pelajaran jangan terlalu panjang dan tugas-tugas atau pekerjaan rumah lebih sedikit dibandingkan dengan teman-temannya.
4.      Berusahalah untuk membantu anak membangun pemahaman dasar mengenai konsep baru daripada menuntut mereka menghafal dan mengingat  materi dan fakta yang tidak berarti bagi mereka.
5.      Gunakan demonstrasi/peragaan dan petunjuk visual sebanyak mungkin. Jangan membingungkan mereka dengan terlalu banyak verbalisasi. Pendekatan multisensori juga dapat sangat membantu.
6.      Konsep-konsep atau pengertian-pengertian disajikan secara sederhana.
7.      Jangan mendorong  atau memaksa mereka untuk berkompetisi dengan anak-anak yang memiliki kemampuan yag lebih tinggi. Adakan sedikit persaingan dalam program akademik yang tidak akan menyebabkan sikap negatif dan pemberontakan terhadap proses belajar. Belajar dengan kerjasama dapat mengoptimalkan pembelajaran, baik bagi anak yang berprestasi atau tidak, ketika pemebelajaran tersebut mendukung interaksi sosial yang tepat dalam kelompok yang heterogen.
8.      Pemberian tugas-tugas harus terstruktur dan kongkrit, seperti pelajaran social dan ilmu alam  . Proyek-proyek besar yang membutuhkan matangnya kemampuan organisasional dan kemampuan konseptual sebaiknya dikurangi, atau secara substansial dimodifikasi, disesuaikan dengan kemampuannya. Dalam kerja kelompok, slow-learner dapat ditugaskan untuk bertanggung jawab pada bagian yang konkret, sedang anak lain dapat mengambil tanggung jawab pada komponen yang lebih abstrak.
9.      Berikan kesempatan kepada anak untuk bereksperimen dan praktek langsung tentang berbagai konsep dengan menggunakan bahan-bahan kongkrit atau dalam situasi simulasi.
10.  Untuk mengantarkan pengajaran materi baru maka kaitkan materi tersebut dengan materi yang telah dipahaminya sehingga familiar untuknya.
11.  Instruksi yang sederhana memudahkan anak untuk memahami dan mengikuti instruksi tersebut. Diusahakan  saat memberikan arahan berhadapan langsung dengan anak.
12.  Berikan dorongan kepada orangtua untuk terlibat dalam pendidikan anaknya di sekolah. Membimbing mengerjakan PR, menghadiri pertemuan-pertemuan di sekolah, berkomunkasi dengan guru, dll. 
13.  Penting bagi guru untuk mengetahui gaya belajar masing-masing anak, ada yang mengandalkan kemampuan visual, auditori atau kinestetik. Pengetahuan ini memudahkan penerapan metode belajar yang tepat bagi mereka.

Ø  Bimbingan Terhadap Siswa Yang Lambat Belajar
Ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh seorang konselor atau guru dalam melakukan bimbingan terhadap siswa yang lambat belajar. Strategi-strategi yang biasa dilakukan oleh seorang konselor atau guru antara lain:
1.      Bimbingan bagi anak dengan masalah konsentrasi
a)      Ubahlah cara mengajar dan jumlah materi yang akan diajarkan.
Siswa yang mengalami masalah perhatian dapat ketinggalan jika materi yang diberikan terlalu cepat atau jika beban menumpuk dengan materi yang kompleks. Oleh karena itu, akan berguna bagi mereka untuk :
·      Memperlambat laju presentasi materi.
·      Menjaga agar siswa tetap terlibat dengan memberi pertanyaan pada saat materi diberikan.
·      Gunakan perangkat visul seperti membuat bagan/skema garis besar materi untuk memberikan gambaran pada siswa mengenai langkah-langkah atau bagian-bagian yang diajarkan.
b)      Adakan pertemuan dengan siswa.
Siswa mungkin tidak menyadari peranan perhatian dalam proses pengajaran. Mereka juga tidak menyadari kalau perhatian merupakan bidang kesulitan tertentu bagi mereka. Dalam pertemuan ini kita memberikan penjelasan dengan cara yang tanpa memberikan hukuman dan tanpa ancaman akan sangat berguna bagi siswa.
c)      Bimbing siswa lebih dekat ke proses pengajaran.
Karena tanpa disadari kita telah mengalihkan perhatian kita dari siswa. Dengan membawa mereka dekat dengan kita secara fisik secara harfiah akan membawa si anak lebih dekat kepada proses pengajaran.
d)     Berikan dorongan secara langsung dan berulang-ulang.
·      Biarkan siswa tahu kalau Anda melihatnya ketika sedang memperhatikan kata anak.
·      Kontak mata ketika pembelajaran berlangsung itu sangat penting.
·      Cobalah berikan penghargaan atas kehadirannya.
·      Bisa juga dengan penghargaan verbal yang dilakukan dengan tenang, dan lembut.
e)      Utamakan ketekunan perhatian daripada kecepatan menyelesaikan tugas.
·      Siswa mungkin merasa kecil hati dan tidak diperhatikan bila mereka dihukum karena tidak menyelesaikan tugas secepat orang lain.
·      Membuat penyesuaian dan jumlah tugas yang harus diselesaikan maupun waktu yang disediakan untuk menyelesaikan tugas berdasar kemampuan individu mungkin akan sangat membantu dan mendorong bagi sebagaian siswa.
f)       Ajarkan self-monitoring of attention.
·      Melatih siswa untuk memonitor perhatian mereka sendiri sewaktu-waktu dengan menggunakan timer atau jam alarm.
·      Mengajarkan mereka untuk mencatat berbagai interval apakah mereka memberikan perhatian atau tidak pada saat pengajaran. Catatan ini akan membantu menciptakan perhatian yang lebih besar bagi kebutuhan dalam memfokuskan perhatian juga bisa berguna dalam strategi untuk memperkokoh keterampilan memperhatikan “attention skill”.
2.      Bimbingan bagi anak dengan masalah daya ingat.
a)      Ajarkan menggunakan highlighting atau menggaris bawahi dengan penanda, untuk membantu memancing ingatan. Mereka harus diberi tahu cara memilih tajuk bacaan, kalimat dan istilah kunci untuk diberi garis bawah atau tanda dengan highlighter. Kemudian mereview dari bacaan yang di sudah digaris bahawahi tadi.
b)      Perbolehkan menggunakan alat bantu memori (memory aid). Yang mana alat-alat itu bisa berfungsi bagi mereka sebagai alat pengingat dan bisa jadi juga sebagai alat pengajaran.
c)      Biarkan siswa yang mengalami masalah sulit mengingat untuk mengambil tahapan yang lebih kecil dalam pengajaran. Misalnya dengan membagi tugas-tugas kelas dan rumah atau dengan memberikan tes kemampuan penguasaan lebih sering.
d)     Ajarkan siswa untuk berlatih mengulang dan mengingat. Misalnya dengan memberikan tes langsung setelah pelajaran disampaikan.
3. Bimbingan bagi anak dengan masalah kognisi               
a)      Berikan materi yang dipelajari dalam konteks “high meaning”
 Ini berguna untuk mengetahui apakah siswa memahami arti bacaan mereka atau arti suatu pertanyaan mengenai materi baru. Pengertian dapat diperkokoh dengan menggunakan contoh, analogi atau kontras.
b)      Menunda ujian akhir dan penilaian.
Perlu memberikan umpan balik dan dorongan yang lebih sering bagi siswa berkesulitan belajar. Evaluai terhadap tugas mereka sebagai tambahan pengajaran akan sangat membantu. Dengan kata lain, suatu kesadaran yang konstan mengenai siswa ini akan membentuk kepercayaan diri dan kemampuan mereka. Bagi sebagian siswa, menunda ujian akhir mereka sampai siswa menguasai sepenuhnya materi yang dipelajari, mungkin merupakan cara terbaik.
c)      Tempatkan siswa dalam konteks pembelajaran yang “tidak pernah gagal”.
d)     Siswa berkesulitan belajar seringkali mempunyai sejarah kegagalan disekolah. Biasanya mereka memiliki perasaan akan gagal (sense of failing) dalam berbagai hal yang mereka lakukan. Memutuskan rantai kegagalan dan menciptakan cipta diri (sense of self) baru bagi siswa ini merupakan sesuatu yang paling penting bagi guru untuk melakukannya. Pada setiap tugas atau kemampuan siswa harus ditarik kembali kepada masalah dimana tugas dapat dilakukan tanpa kegagalan.
4.      Bimbingan bagi anak dengan masalah sosial dan emosional
a)    Buatlah sistem perhargaan kelas yang dapat diterima dan dapat diakses.
Siswa berkesulitan belajar perlu memahami sistem penghargaan ini dikelas dan merasa ikut serta di dalamnya. Jangan sampai siswa yang berkesulitan melajar merasa “out laws”, mereka yang tidak memilki kesempatan untuk mendapatkan penghargaan yang diterima siswa lain. Untuk memahami bagaimana mereka bisa mendapatkan penghargaan yang baik, para siswa disini perlu diberi pemahaman tentang bagaimana cara mendapatkan keuntungan sosial dari sikap positif dan hubungan sosial yang baik dikelas. Beberapa siswa mungkin ingin pembuktian langsung dikelas.
b)    Membentuk kesadaran tentang diri dan orang lain.
Sebagian siswa yang berkesulitan belajar tidak memilki kesadaran yang jelas pada sikapnya sendiri serta dampaknya pada orang lain. Membantu siswa ini menjadi lebih mengenal sikap mereka dan dampaknya pada orang lain merupakan kesempatan yang berarti bagi perkembangan sosial dan emosional. Berbicara terbuka dan penuh perhatian kepada siswa ini mengenai sikapnya juga dapat menjadi langkah penting dalam membentuk hubungan yang saling percaya di antara mereka.
c)    Mengajarkan sikap positif
 Ketika siswa berkesulitan belajar menjadi lebih sadar terhadap sikapnya dan mendapat pemahaman yang lebih baik atas interaksi dengan orang lain, mereka akan merespon dengan baik intruksi-intruksi tentang cara membentuk hubungan yang baik dan sense of self (citra diri) yang lebih positif.
d)    Minta bantuan.
Jika sikap seorang siswa berkesulitan belajar sangat tidak layak atau sikap negatifnya tetap ada ketika semua cara telah dicoba, jangan ragu minta bantuan. Cari bantuan pada teman sejawat disekolah yang mungkin dapat memberikan bantuan dalam menjelaskan masalah-masalah sosial dan emosional, serta mencari solusi mengenai kesulitan tersebut. Pertolongan ini bisa datang dari psikolog, konselor, orang tua, guru, dan kepala sekolah. Yang terpenting seorang pendidik memahami bahwa minta bantuan bukan tanda kelemahan atau ketidakmampuan.

F.              Penyelesaian Masalah bagi Slow-learner
1.      Pemeliharaan sejak dini Bila faktor lingkungan merupakan penyebab utama yang mempengaruhi inteligensi, pencegahan awalnya mungkin dengan mengubah lingkungan masyarakat dan lingkungan belajarnya. Perawatan sejak dini juga akan bermanfaat untuk pencegahan. Dalam suatu penelitian, setiap anak tinggal di dalam kamar yang berbeda dan hidup bersama dengan orang dewasa. Mereka mendapat perawatan yang khusus serta cermat dari para perawat wanita yang berpendidikan rendah. Dari hasil tes IQ terlihat adanya kemajuan. Dari sini dapat disimpulkan perawatan dini dan pemeliharaan secara khusus dapat menolong mengurangi tingkat kelambanan belajar.
2.      Pengembangan secara keseluruhan Usahakan agar anak mau mengembangkan bakatnya sebagai upaya mengalihkan perhatiannya dari kelemahan pribadi yang telah membuat mereka kecewa dan apatis. Pengalaman dalam berbagai hal akan membuat anak mengembangkan kemampuannya, dan pengalaman yang sukses akan membangun konsep harga diri yang sehat.
3.      Lembaga pendidikan, kelas atau kelompok belajar khusus Dalam hal pergaulan, mereka yang ada di lembaga pendidikan umum mungkin mengalami perasaan seperti diasingkan oleh teman-temannya, tetapi di sana mereka dapat memiliki harga diri yang lebih tinggi daripada yang mengikuti pendidikan di lembaga khusus. Bagi anak yang lambat belajar, yang terpenting bukanlah di mana mereka disekolahkan, tetapi bagaimana mereka mendapatkan pengaturan lingkungan belajar yang ideal. Dalam sekolah umum dapat dibentuk kelas khusus bagi anak slow-learner. Anak slow-learner membutuhkan perhatian yang lebih intensive dalam proses belajar mereka. Dengan dibentuk kelas atau kelompok yang relatif kecil, pembelajaran akan fokus pada mereka dan penggunaan metode yang berbeda dengan siswa reguler dapat lebih leluasa.
4.      Memberikan pelajaran tambahan Sekolah dapat mengatur atau menambah guru khusus untuk menolong kebutuhan belajar anak. Dapat juga dengan menyediakan program belajar melalui komputer. Dengan demikian, mereka dapat belajar tanpa tekanan dan memperoleh kemajuan yang sesuai dengan kemampuan diri sendiri.
5.      Latihan indra Kesulitan belajar bagi anak yang lamban berhubungan erat dengan intelektualitasnya. Jadi, penting juga untuk memberikan beberapa teknik latihan indra kepada mereka. Anak memiliki gaya belajarnya masing-masing, seperti visual, auditori atau kinestetik. Dengan mengasah kemampuan indera yang dominan pada mereka akan mempermudah proses pemahaman dalam belajar mereka.
6.      Prinsip belajar Semua usaha yang melatih anak untuk meningkatkan daya belajarnya, sebaiknya memerhatikan prinsip dan keterampilan belajar:
·         Usahakan agar anak lebih banyak mengalami sukacita karena keberhasilannya. Hindarkan kegagalan yang berulang-ulang.
·         Dorong anak untuk mencari tahu jawaban yang benar atau salah dengan usahanya sendiri. Dengan demikian, anak dapat dipacu semangatnya untuk belajar.
·         Beri dukungan moral atas setiap perubahan sikap anak agar mereka puas. Suatu waktu, berilah hadiah kepada anak.
·         Perhatikan taraf kemajuan belajar anak, jangan sampai kurang tantangan dan terlalu banyak mengalami kegagalan.
·         Lakukan latihan secara sistematis dan bertahap sehingga mencapai kemajuan belajar.
·         Boleh memberikan pengalaman berulang yang cukup, tetapi jangan diberikan dalam jangka pendek.
·         Jangan merencanakan pelajaran yang terlampau banyak bagi murid.
·         Gunakan teknik bahasa yang melibatkan lebih banyak penggunaan indra.
·         Lingkungan belajar yang sederhana akan mengurangi rangsangan yang tidak diinginkan. Aturlah tempat duduk sedemikian rupa agar mereka tidak merasa terganggu.

7.      Dukungan orangtua Dorongan dan bantuan orangtua erat hubungannya dengan hasil belajar anak yang lamban. Bila dalam mengulangi apa yang dipelajari di sekolah, orangtua bekerja sama dengan guru dalam memberikan metode dan pengarahan yang sama, tentu akan diperoleh hasil yang lebih baik. Bila memungkinkan, orangtua dapat meminta izin untuk mengamati proses belajar mengajar di sekolah.


Sumber Referensi
Ahmadi, Abu dkk.2004.Psikologi Belajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Nursalim mochamad. 2007. Psikologi Pendidikan .Surabaya: Unesa University Press
http://www.ditplb.or.id/profile.php?id=55
http://ukhwah-parangtritis.blogspot.com/2005/05/bermain-bagi-anak.html
http://kesulitanbelajar.org/index2.php?option;com_conten&do_pdf=1&id=15